Sabtu, 19 Januari 2013

Life is Like a Pencil

Saya suka mengeksplor sesuatu yang ada di sekitar saya. Dari apa yang saya lihat, saya dengar, saya pikirkan dan saya rasakan. Semua untuk perbaikan kehidupan.

Seseorang -yang menyebut dirinya pembaca karakter- bilang kalo dia mendadak buta huruf ketika membaca diri saya. Karna dia tahu saya menjadi orang berbeda di tempat yang berbeda.

Siang tadi, 4 jam di warung kopi berasa 4 menit ketika saya melihat dan mendengarkan 3 mahasiswa luar biasa sedang mengorek pikirannya. Idealis, lugas, dan pembawaan yang cerdas. Open minded.

Apa yang saya pelajari dari hari ini:

"Ketika saya harus banyak bicara, maka sebelumnya saya harus 2 kali lebih banyak mendengarkan. Saya punya 1 mulut, dan 2 telinga."

"Rumah saya bukan di dunia. Tapi dunia adalah rumah saya."


Kita ibarat pensil. Semakin banyak digerakkan, maka akan semakin banyak menghasilkan karya.

Siapa yang menggerakkan?

Yang menggerakkan adalah Dia yang merautmu ketika kamu patah.

-Fastabiqul khairat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar